Dua Gubernur Diskusi Tentang Pengaruh Politik Identitas, Reputasi Sumut Tekan Konflik Jadi Contoh Daerah Lain

Keduanya
adalah Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo dan Gubernur Sumut
Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi. Bersama dengan para akademisi di Sumut,
seperti Dr Shohibul Ansor Siregar selaku moderator, Prof Hasan Bakti Nasution
mewakili FKUB, Dr Warjio selaku pakar sosial dan politik, Prof Reni Mayerni
(Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lemhannas RI), serta sejumlah pejabat.
Gubernur
Lemhannas RI Agus Widjojo menyebutkan, kehadiran lembaga ini di Sumut dalam
konteks kajian jangka panjang tentang politik identitas dan dampaknya terhadap
demokrasi. Medan (Sumut) dipilih bersama dengan beberapa daerah lainnya, karena
ada beberapa karakteristik yang bisa membedakannya dengan daerah lain dan itu
direspons cukup positif.
“Reputasi
Sumut yang bisa menekan konflik ini pada tingkat maksimal, artinya apapun
pilihan rakyat, tidak menimbulkan korban. Ini mungkin yang perlu dijadikan
sumbangan positif dan perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan untuk dijadikan
sebagai model (contoh) bagi daerah lain di Indonesia. Medan bisa dikatakan
sebagai daerah yang punya masyarakat bercirikan kebhinekaan. Tentunya hal itu
memberikan tantangan tentang pengelolaannya agar tidak lepas kendali,” ujar
Agus kepada wartawan di sela kegiatan diskusi.
Upaya kajian ini, pihaknya meminta masukan dari para pakar yang memahami bagaimana kondisi sosial politik di Sumut. Agar politik identitas tidak menjurus kepada penekanan perbedaan, tetapi lebih kepada upaya mencari persamaan dari perbedaan tersebut. Sebab, menurutnya, dalam masyarakat yang homogen seperti Jepang dan Korea, tetap bisa dikelompokkan dengan identitas tertentu.
“Di sini
dikaitkan dengan demokrasi. Yakni praktek-praktek identitas sebagai sumber daya
dan sarana politik dalam rangka mempengaruhi kebijakan dan kompetisi merebut
kekuasaan dengan cara konstitusional dalam bentuk pemilu. Yang dapat
mengingkari prinsip-prinsip yang diamanatkan oleh demokrasi, yaitu membatasi
kebebasan untuk memilih,” jelasnya.
Bahwa
identitas dimaksud dalam kajian politik ini, lanjut Agus, adalah keniscayaan
yang bisa mengarah kepada negatif atau positif. Untuk demokrasi, jika politik
identitas kemudian membatasi kebebasan memilih, maka ada persoalan yang membuat
terjadinya krisis (identitas). Muaranya adalah polarisasi di masyarakat.
“Bila
dibiarkan dalam jangka panjang, ini akan membentuk sebuah karakteristik
permanen kepada bangsa yang akan menghalangi pembangunan karakter kebangsaan
kita. Sebab amanat pendiri bangsa, Negara ini dibentuk berdasarkan kesepakatan,
bukan komposisi mayoritas-minoritas (identitas),” tambah Agus.
Gubernur
Sumut Edy Rahmayadi pun mengakui, bahwa provinsi ini dihuni oleh beragam etnis,
suku dan agama. Karena itu, dapat dijadikan masukan dan cocok sebagai contoh
bagi daerah lain di Indonesia. Pengalaman daerah ini menghadapi berbagai
pemilihan baik Pileg, Pilpres, Pilgub, hingga Pilkada, perlu diwaspadai di masa
mendatang, agar politik identitas yang bisa menyebabkan polarisasi di
masyarakat, mengarah kepada penajaman perbedaan yang mengkhawatirkan.
“Memang kita
masih banyak pemilih yang rasional, tetapi kita tetap harus waspadai kedepan
seperti apa. Jadi kondisi ini seperti itu (polarisasi) tidak bisa dibiarkan,”
katanya.
Bagi Edy,
sistem demokrasi yang berlaku di sebuah negara bergantung pada kebutuhan atau
penyesuaian terhadap perkembangan sosial politik yang berjalan. Beberapa bentuk
di antaranya seperti demokrasi langsung, tidak langsung (representatif),
parlementer, presidensial, otorier, partisipatif, demokrasi Islam, dan sosial.
Berbeda negara, berbeda bentuk demokrasinya.
“Cocokkan kita dengan one man one vote? Kenapa tidak?. Demokrasi kan ada bermacam-macam. Apakah demokrasi jelek? Tidak. Tergantung siapa yang melakukannya,” jelas Edy Rahmayadi.
Karenanya
Edy meminta agar para narasumber dan penanggap dalam diskusi tersebut untuk
membuka diri dalam berdiskusi melihat seperti apa kondisi demokrasi dan
kaitannya dengan politik identitas di Sumut. Agar gambaran ini bisa disampaikan
dan menjadi catatan penting bagaimana formulasi jangka panjang untuk mengelola
iklim demokrasi, terutama dalam hal pengambilan kebijakan sosial politik oleh
penyelenggara negara.
“Saya minta
silakan disampaikan secara terbuka di dalam forum ini. Karena ini kan ranah
akademis, jadi jangan dibatasi. Namanya juga kajian, harus menyeluruh dan
dinamis,” harapnya.
Usai
pembukaan diskusi tersebut, Edy Rahmayadi dan Agus Widjojo saling bertukar
cenderamata sebagai tanda penghormatan. Apalagi Edy mengakui bahwa Gubernur
Lemhanas RI saat ini adalah gurunya pada saat masih dinas di TNI AD.
Edy pun
mengundang rombongan Lemhanas RI untuk hadir di Rumah Dinas Gubernur Sumut di
Jalan Sudirman 41 Medan untuk makan siang bersama. Turut diundang Pangdam I/BB
Mayjen TNI Hassanudin, Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak dan unsur
Forkopimda lainnya. (*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Dua Gubernur Diskusi Tentang Pengaruh Politik Identitas, Reputasi Sumut Tekan Konflik Jadi Contoh Daerah Lain"
Posting Komentar