Rehabilitasi Mangrove Dapat Tingkatkan Produktivitas Tambak Masyarakat
Hal ini dikatakan Sekretaris Badan
Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Dr.
Ayu Dewi Utari, pada kegiatan Sosialisasi Percepatan Rehabilitasi Mangrove
Provinsi Sumatera Utara (Sumut) secara daring, Rabu (14/7/2021).
Perubahan yang dimaksud Ayu adalah
pemanfaatan ekosistem mangrove menjadi tambak. Tambak tidak dapat dipungkiri
memang menguntungkan secara ekonomi. Akan tetapi, pengelolaannya perlu
memperhatikan kelestarian ekosistem mangrove.
“Bahkan manfaat ekonomi secara jangka
panjang tergantung pada keutuhan mangrove di sekelilingnya. Sehingga mangrove
yang rusak perlu direhabilitasi” ujar Ayu Dewi.
Kelestarian mangrove menurut Dewi
penting dijaga karena secara ekologi mangrove dapat menahan lajunya abrasi dan
benteng dari hantaman ombak.
Rusaknya ekosistem mangrove juga akan
merugikan masyarakat secara ekonomi karena fungsinya sebagai tempat pemijahan
biota laut seperti udang dan kepiting hilang.
“Kerusakan ekosistem mangrove di
Indonesia dengan kategori kritis telah mencapai 637.000 hektare. Hal ini juga
yang melatarbelakangi penambahan mandat BRGM di akhir tahun 2020 lalu,”
sebutnya.
BRGM, sebagaimana yang tertuang dalam
Perpres No. 120 Tahun 2020, akan melakukan rehabilitasi mangrove di 9 provinsi
selama empat tahun sampai 2024. Salah satu provinsi targetnya adalah Sumatera
Utara.
Dewi menambahkan, luasan areal
mangrove rusak kritis di Sumut dan menjadi target indikatif rehabilitasi
mangrove BRGM sampai tahun 2024 sekitar 37.000 hektare. Sedangkan target tahun 2021 adalah seluas
11.600 hektare, sekitar 5.000 hektare akan dilaksanakan BRGM bersama Balai
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Wampu Sei Ular.
Sisanya akan dilaksanakan bersama BPDASHL Asahan Barumun.
Kegiatan rehabilitasi mangrove yang
dilakukan BRGM di tingkat tapak akan dilakukan oleh masyarakat melalui
penanaman bibit mangrove, termasuk pada areal tambak. Kegiatan di areal tambak,
menurut Ayu, banyak mengalami penolakan dari pemiliknya.
“Penolakan ini dikarenakan adanya
pemahaman dan ketakutan pemilik tambak akan terjadinya perubahan fungsi kawasan
menjadi kawasan hutan atau tanah negara setelah dilakukan rehabilitasi,” tambah
Ayu.
Pemahaman ini kurang tepat, tutur Ayu,
karena kegiatan penanaman bibit mangrove ini areal tambak, selain dapat
mengembalikan fungsi ekologi mangrove juga meningkatkan produktivitas tambak
yang lebih ramah lingkungan.
Hal ini dikarenakan, pola tanam yang
ditawarkan BRGM cukup beragam, yaitu tanam murni pada areal rusak total,
silvofishery, pengkayaan dan rumpun berjarak. Pola tanam yang akan digunakan
berdasarkan kondisi mangrove di tingkat tapak.
Pelaksanaan rehabilitasi mangrove di
tingkat tapak di Sumatera Utara juga memerlukan dukungan dari berbagai pihak,
termasuk didalamnya pemerintah daerah, unit pelaksana teknis, dinas, lembaga
swadaya masyarakat, universitas dan masyarakat.
“Ayo kita sukseskan rehabilitas
mangrove di Sumatera Utara,” ajak Ayu sekaligus membuka kegiatan sosialisasi
ini secara resmi.
Selain menghadirkan Sekretaris BRGM
Ayu Dewi, acara ini juga menghadirkan Teguh Prio Adi Sulistyo (Kapokja Program
& Anggaran), Mayasih Wigati, (Kasubpokja Perencanaan Rehabilitasi Mangrove),
Onesimus Patiung (Kapokja Rehabilitasi Mangrove Wilayah Sumatera), Muslim
Rasyid (Kasubpokja Partisipasi Masyarakat Perdesaan), Dwi Januanto Nugroho
(Kepala BPDASHL Asahan Barumun), dan Anang Widicahyono (Kepala BPDASHL Wampu
Sei Ular) sebagai pemateri. (*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "Rehabilitasi Mangrove Dapat Tingkatkan Produktivitas Tambak Masyarakat"
Posting Komentar