China-AS Perang Dagang, IHSG dan Rupiah Bahkan Emas jadi Korban
LensaMedan - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 3.31% di level 6.270,597, di saat investor asing membukukan transaksi jual senilai Rp1,88 triliun.Pelemahan IHSG ini menurut Analis Keuangan Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, sejalan dengan mayoritas bursa di Asia yang pada perdagangan hari ini juga ditutup turun.
"Bursa saham di China memimpin pelemahan pada hari ini, setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan kenaikan tarif 10% ke China," ujar Gunawan di Medan, Jumat (28/1/2025).
Pemerintah China diyakini Gunawan juga tidak tinggal diam dengan berjanji akan membalas kenaikan tarif tersebut jika diperlukan.
Aksi balasan ini kian menambah masalah baru bagi perekonomian global, dimana banyak negara yang berpeluang mengambil langkah serupa, sehingga akan ada banyak negara yang mengambil sikap protektif terhadap perekonomiannya masing-masing.
Dampak perang dagang yang meluas jelas tidak akan baik bagi kinerja pasar saham.
"IHSG sendiri telah mengalami kerugian yang signifikan sejak rencana perang dagang digaungkan di tahun 2024," katanya.
Dan bukan hanya IHSG, mata uang Rupiah juga dalam jalur pelemahan sejauh ini. Rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah di level 16.575 per US Dolar.
Gunawan menilai, memburuknya mata uang Rupiah tidak terlepas dari tekanan Dolar AS terhadap mata uang dunia. Kebijakan kenaikan tarif relatif menguntungkan Dolar AS, dibandingkan dengan mata uang lainnya.
Karena kenaikan tarif akan mengurangi kemampuan negara diluar AS untuk mendapatkan dana valas dari hasil ekspornya.
"Hal inilah yang membuat Rupiah melemah belakangan ini, sekalipun sejumlah data ekonomi AS justru tidak menopang US Dolar untuk lanjutkan penguatan," terangnya.
Disisi lain, harga emas alami pelemahan ke level US$2.861 per ons troy, atau sekitar Rp1,53 juta per gram. (*)
(Medan)
Belum ada Komentar untuk "China-AS Perang Dagang, IHSG dan Rupiah Bahkan Emas jadi Korban"
Posting Komentar