Kebijakan Tarif Dagang AS Ancam Kinerja Ekspor Karet Sumut


LensaMedan - Kebijakan tarif dagang AS terhadap produk karet remah (HS 4001.22.20) berdampak signifikan pada ekspor karet Sumatera Utara (Sumut), terutama karena Amerika Serikat merupakan tujuan ekspor terbesar kedua setelah Jepang pada tahun 2024. 

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, mengatakan, dengan pangsa ekspor ke AS mencapai 20,11%, kebijakan tarif AS dapat mengancam penurunan volume ekspor dan mempengaruhi industri karet di Sumatera Utara secara signifikan. 

"Penerapan tarif impor oleh AS akan menyebabkan harga karet Sumut menjadi lebih mahal di pasar Amerika dibandingkan produk dari negara penghasil karet dengan tarif resiprokal yang lebih rendah.  Karena itu importir AS akan cenderung mencari pemasok alternatif, sehingga bisa menurunkan volume ekspor Sumut ke AS," ujar Edy di Medan, Kamis (3/4/2025).

Selain itu, kata Edy, kebijakan tarif yang berubah-ubah menciptakan ketidakpastian bagi eksportir karet Sumut, sehingga sulit membuat strategi ekspor jangka panjang. 

Fluktuasi harga dan permintaan akibat tarif membuat pelaku usaha lebih rentan terhadap kerugian dan penurunan pendapatan. 

Sementara bagi petani karet itu sendiri, berkurangnya permintaan dari AS akan menyebabkan harga karet di tingkat petani bisa turun.

"Kalau harga turun, maka dipastikan berdampak pada kesejahteraan petani dan industri pengolahan karet," terangnya. 

Lebih lanjut dijelaskan Edy, perubahan rantai pasokan akibat perang dagang AS-Tiongkok dapat menyebabkan kenaikan biaya produksi, karena harga bahan baku dan logistik meningkat. 

"Dan ini juga bisa memunculkan persaingan yang lebih ketat akibat adanya surplus produksi dari negara lain yang mencari pasar alternatif," tambahnya. 

Meski dampak negatif lebih dominan, Edy melihat masih ada beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan, salah satunya dengan melakukan diversifikasi pasar.

Dengan adanya tekanan di pasar AS, eksportir karet Sumut dapat memperkuat pasar ekspor lain seperti Jepang (29,66%) yang saat ini menjadi tujuan ekspor terbesar. 

"Lalu ada India (6,62%) dan Tiongkok (6,60%) yang juga merupakan pasar potensial, dan juga Brasil (5,03%) yang bisa diperluas dengan kerja sama dagang lebih lanjut," ucapnya. 

Untuk tetap kompetitif, industri karet Sumut harus mempertahankan Kualitas produk sesuai standar internasional. 

Selain itu, efisiensi produksi juga perlu dilakukan agar tetap kompetitif meskipun menghadapi hambatan tarif. 

Jika perang dagang menyebabkan perubahan rantai pasokan, Sumatera Utara bisa mengambil peran sebagai pemasok alternatif di pasar baru. 

"Dengan strategi yang tepat, Sumut dapat mengisi celah pasar yang ditinggalkan oleh negara lain akibat kebijakan perdagangan AS," pungkasnya.  (*)


(Medan)

Belum ada Komentar untuk "Kebijakan Tarif Dagang AS Ancam Kinerja Ekspor Karet Sumut"

Posting Komentar

Tim SAR Gabungan Temukan Jasad Remaja Asal Aceh di Sungai Lepan

LensaMedan - Setelah pencarian intensif selama dua hari, Tim SAR Gabungan yang dikoordinasi oleh Basarnas Medan akhirnya berhasil menemukan ...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel